|
Mana yang lebih penting? Karir atau Keluarga? |
|
Monday, 30 March 2009 |
Di setiap saat di dalam hidup, kita dihadapkan dengan sebuah pilihan. Yang manakah yang seharusnya menjadi pilihan kita : tuntutan terhadap pekerjaan atau kewajiban terhadap keluarga kita ?
Jika ada rapat direksi pada hari dan jam yang sama dengan saat anak kita diwisuda, ke mana kita harus pergi -- ke ruangan rapat atau acara wisuda ?
Jika kita harus menyajikan presentasi yang sangat penting sekali besok, sehingga bisa meningkatkan karir kita, tapi istri kita harus pergi ke dokter atas dugaan adanya penyakit kanker, janji mana yang harus kita tepati? |
|
Last Updated ( Monday, 06 April 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
 Seorang gadis bernama Lili menikah dan tinggal bersama suami dan ibu mertua. Dalam waktu singkat, Lili menyadari bahwa ia tidak dapat cocok dengan ibu mertuanya dalam segala hal. Kepribadian mereka berbeda, dan Lili sangat marah dengan banyak kebiasaan ibu mertua. Lili juga dikritik terus-menerus. Hari demi hari, minggu demi minggu, Lili dan ibu mertua tidak pernah berhenti konflik dan bertengkar. Keadaan jadi tambah buruk, karena berdasarkan tradisi timur, Lili harus taat kepada setiap permintaan sang mertua. Semua keributan dan pertengkaran di rumah itu mengakibatkan suami yang miskin itu ada dalam stress yang besar. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Batu Giok Dikembalikan Ke Negara Zhao Dalam KeŽadaŽan Utuh |
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
Mengembalikan sesuatu kepada pemiliknya dalam keadaan baik. Oleh: Leman, Penulis buku 50 Chinese Wisdoms
Peribahasa ini tidak mempunyai makna khusus, te¬ta¬pi orang le¬bih tertarik dengan isi ceritanya. Alkisah pada periode Negara Berperang (475-221 SM) ada se¬orang raja dari negara Zhao yang bernama Hui Wen. Ia me¬mi¬li¬¬ki se¬bu¬ah batu giok yang paling indah/bagus di dunia.
Mendengar berita tersebut, raja negara Qin ingin mena¬war¬kan barter antara batu giok dengan 15 kota milik negara Zhao yang dijajahnya.
Raja Hui Wen khawatir raja Qin tidak akan menepati janjinya, maka ia meminta utusannya Lin Xiang Ru yang gagah berani dan cerdik agar berhati-hati mengha¬dapi raja Qin. Sebelum berangkat, Lin Xiang Ru berjanji bah¬¬wa ia akan membawa kembali batu giok da¬lam keadaan utuh jika raja Qin tidak menepati janjinya. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
|
Penulis: Erwin Arianto, SE Dua orang Bos 'berlomba' menonjolkan kebodohan sopirnya. Bos A kemudian memanggil sopirnya, Sono, tolong beli mobil BMW seri terbaru dengan uang Rp 100 ribu ini. Baik Tuan. Dengan cepat Sono berlalu.
Bos A dengan senyum kemenangan, Tuh lihat sendiri kan betapa bodohnya sopir saya. Ah itu sih belum apa-apa dibanding kebodohan sopirku, sahut Bos B. Sunu, tolong cek apakah Bapak (Bos B) ada di rumah saat ini. Segera Tuan sahut Sunu. Diapun segera berlalu. Dengan tertawa keras Bos B memandang Bos A untuk menunjukkan bahwa dialah yang menang dalam 'pertandingan kebodohan' ini.
Kedua sopir kemudian bertemu di jalan. Sono berkata, Ampun deh Bosku itu sangat tolol. Ah kamu sih belum tahu kalau Bosku jauh lebih tolol dibanding Bosmu, respon Sunu. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Membuka Hati, Membuka Diri |
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
|
Oleh : Dadang Kadarusman, Penulis Buku “Belajar Sukses Kepada Alam”
Bukalah pintu hatimu. Begitu anda mengatakan jika menginginkan seseorang menerima kehadiran diri anda. Ini benar bukan hanya dalam konteks membangun sebuah hubungan. Juga benar dalam konteks bagaimana kita bersedia membuka hati kepada sebuah nasihat, masukkan, dan kritikan yang ditujukan kepada kita.
Jujur saja, kita tidak terlalu suka mendengar nasihat. Sehingga kita kehilangan pelajaran yang dikandungnya. Kita enggan mendengarkan masukan. Sehingga kita tidak melakukan perbaikan. Kita juga alergi dengan kritikan. Sehingga kita terkungkung oleh kepicikan. Pendek kata, kita menutup diri dengan cara menutup pintu hati kita dari semua yang datang dari luar. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Orang yang Semakin Kaya Semakin Serakah |
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
|
Saya adalah orang yang sangat setuju kaya itu mulia, kaya itu bagus, kaya memungkinkan Anda bisa banyak berbuat, menderma, dan membantu orang-orang yang kesusahan. Intinya kaya itu bisa, bisa dan bisa. Cuma harus ada keseimbangan dan jangan menjadi serakah.
Mengenai orang yang semakin kaya semakin serakah, ada sebuah dongeng dari China yang bisa kita simak bersama.
Cerita: Alkisah di pinggiran sebuah desa kecil, hiduplah sebuah keluarga paruh usia tua yang cukup bahagia. Mereka banyak teman dan disenangi orang-orang disekitarnya. Walaupun kehidupan mereka hanya ditopang dari bisnis skala toko kecil, yang menjual berbagai barang-barang kebutuhan sehari-hari. Mereka tidak segan-segan menolong orang yang mengalami kesusahan. |
|
Selengkapnya...
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Monday, 11 August 2008 |
|
Dari pinggir kaca nako, di antara celah kain gorden, saya melihat lelaki itu mondar-mandir di depan rumah. Matanya berkali-kali melihat ke rumah saya. Tangannya yang dimasukkan ke saku celana, sesekali mengelap keringat di keningnya.
Dada saya berdebar menyaksikannya. Apa maksud remaja yang bisa jadi umurnya tak jauh dengan anak sulung saya yang baru kelas 2 SMU itu? Melihat tingkah lakunya yang gelisah, tidakkah dia punya maksud buruk dengan keluarga saya?
Mau merampok? Bukankah sekarang ini orang merampok tidak lagi mengenal waktu? Siang hari saat orang-orang lalu-lalang pun penodong bias beraksi, seperti yang banyak diberitakan koran. Atau dia punya masalah dengan Yudi, anak saya? |
|
Selengkapnya...
|
|
|